Kamis, 15 Januari 2015

Ukiran Kayu - Keunikan Lain Dibalik Tana Toraja

Tana Toraja, sekilas mendengar namanya pemikiran saya tertuju pada pesona eksotika alam yang diperkaya dengan adat istiadat yang menawan. Rumah adat Tongkonan, upacara adat yang meriah juga tebing-tebing tinggi yang diatasnya menggantung peti-peti jenazah. Lalu saya pun menerka-nerka mengapa disebut Tana Toraja? Yang terlintas dalam pikiran saya adalah mungkin dahulunya, tempat ini merupakan tanah para raja. Bagaimana tidak? Dalam upacara pemakaman jenazah, yang disebut upacara Rambu Solo’ banyak serangkaian ritual yang bisa dikatakan rumit dan tentunya membutuhkan biaya yang sangat besar. Tak heran upacara adat pemakaman jenazah menjadi tontonan menarik.
Sebenarnya Tana Toraja ini berasal dari kata To Riaja” (To= Orang , Riaja = diatas bagian Utara, dataran tinggi) julukan dari orang-orang Bugis yang bermukim di dataran rendah pada awal abad ke-17. Kabupaten yang terletak sekitar 350 km dari utara Makassar ini, menyimpan beragam keunikan budaya dan adat istiadat yang masih terpelihara sejak zaman dahulu. Selain rumah adat dan upacara adat, ternyata ukiran kayu khas Toraja tak kalah unik dan menarik.
1356324266210006695Ukiran kayu khas Toraja yang dinamakan Pa’ssura (tulisan) merupakan perwujudan budaya Toraja karena telah menjadi keseharian orang Toraja. Pada mulanya, ukiran Toraja dipahatkan pada media kayu yang tampak menghiasi rumah adat Tongkonan dan berbagai perkakas ritual adat suku Toraja. Namun, seiring dengan waktu ukiran Toraja merambah media lain, seperti kain yang dibordir dan juga kain batik.
(sumber: http://dewey.petra.ac.id)
Motif yang dibuat mengandung makna hubungan masyarakat Toraja dengan pencipta-Nya, dengan sesama manusia (lolo tau), ternak (lolo patuon), dan tanaman (lolo tananan). Warna yang dominan digunakan adalah merah, putih, kuning dan hitam.
13563240981661441140
Pada dasarnya motif ukiran Toraja berpola geometris dan abstrak.  Setiap pola memiliki nama dan kisahnya tersendiri. Motif-motif tersebut melambangkan keagungan, kebajikan, kesuburan, harapan dan lain-lain. Semisal, motif  Pa’Barre Allo (matahari) yang dapat ditemui di pucuk Tongkonan, melambangkan kebesaran dan keagungan Toraja.
1356326802535430687
(diolah dari : id.wikipedia.org)
Saat ini, diperkirakan terdapat lebih dari 67 jenis ukiran khas Toraja dengan aneka motif dan warna. Ukiran Toraja selain sebagai perlambangan atau menggambarkan simbol-simbol tertentu, juga merupakan suatu seni yang tetap terpelihara hingga kini. Hal ini didukung dengan prosesi ritual upacara adat yang tetap kukuh memegang nilai-nilai tradisi. Ini merupakan cerminan bahwa masyarakat Toraja amat menghargai peninggalan dan tradisi nenek moyang.
Pelestarian harus terus dilakukan! Tak hanya oleh masyarakat suku Toraja sendiri, namun pelestarian kekayaan seni dan budaya Toraja sebagai salah satu ragam budaya Indonesia perlu didukung oleh seluruh warga negara Indonesia. Dengan menjadikan Tana Toraja sebagai destinasi wisata yang wajib dikunjungi dan tak lupa berburu oleh-oleh khas Toraja, termasuk ornamen ukiran Toraja yang unik dan mengandung nilai-nilai filosofis.
Memang, ukiran khas Toraja kini dapat ditemui di beberapa wilayah di Indonesia . Namun, tak ada salahnya berkunjung langsung kesana untuk melihat secara langsung dekorasi ukiran pada Tongkonan lengkap dengan serangkaian ritual prosesi upacara adat yang diiringi lantunan seni musik dan tari khas Toraja.
Maka, tak ada alasan untuk tidak mengunjungi Tana Toraja, tanah para raja.
Sumber :  http://wisata.kompasiana.com/jalan-jalan/2012/12/24/ukiran-kayu-keunikan-lain-dibalik-tana-toraja-519290.html
 

0 komentar:

Posting Komentar

Beri Komentar pada blog ini

AdBrite