Sabtu, 30 Oktober 2010
Dekranasda Jabar Kini Miliki Perpustakaan Kerajinan
Dengan telah tersedianya fasilitas perpustakaan, diharapkan publik, khususnya para pengrajin dapat lebih mengenal seluk beluk kerajinan yang disajikan dari berbagai rujukan maupun literatur. Ke depan, Perpustakan Kerajinan Jawa Barat kelak menjadi rujukan informasi para pengrajin di seluruh Jawa Barat.
"Gedung Dekranasda atau Gedung Jawa Barat Craft Center harus mampu menghadirkan beragam informasi seputar kerajinan di Jawa Barat. Sebagai rumah pengrajin dan publik, berfungsi memberikan pengetahuan seputar kerajinan Jawa Barat. Sehingga sudah selayaknya memiliki perpustakaan sendiri. Dengan koleksi tentang
kerajinan, seni budaya, bisnis, manajemen usaha,literasi dalam bentuk buku maupun digital, perpustakaan ini diharapkan menjadi referensi bagi para pegiat di dalamnya," ujar Netty dalam rilis yang diterima detikbandung, Sabtu (23/10/2010).
Menurut Netty, perpustakaan adalah tempat di mana disajikan banyak informasi yang diolah dan dikelola secara profesional. Informasi yang ada seputar kerajinan, bukan sekadar dikumpulkan untuk dijadikan arsip atau koleksi, tapi juga disampaikan kepada masyarakat luas. Terlebih, jika informasi tersebut merupakan aset atau pengetahuan yang berharga untuk disebarluaskan atau diberdayakan menjadi banyak kegiatan positif yangproduktif.Sudah tentu, hadirnya perpustakaan ini, diharapkan agar kekayaan seni dan budaya Jawa Barat menjadi lestari, berkembang,dan semakin dikenal masyarakat.
Latar belakang berdirinya Perpustakaan Kerajinan Jawa Barat atau disingkat Pekerja adalah sebagai upaya melestarikan dan mempromosikan aneka kekayaan kerajinan Jawa Barat. Proses pendiriannya pun melalui tahapan pelatihan perpustakaan, penyediaan tenaga pustakawan, pengadaan media informasi koran dan majalah, pembenahan ruangan, hingga pengadaan koleksi. Ke depan Pekerja dapat menjadi perpustakaan khusus yang tepercaya dan dapat diandalkan sebagai pusat informasi dan referensi aneka kerajinan Jawa Barat.
(tya/tya)
http://bandung.detik.com/read/2010/10/23/100731/1472906/486/dekranasda-jabar-kini-miliki-perpustakaan-kerajinan
Rabu, 10 Maret 2010
Kerajinan Asal Tasik Hadir di Piala Dunia
| GEDUNG PAKUAN,(GM)- Penyelenggaraan Piala Dunia di Afrika Selatan tahun ini akan diwarnai hadirnya merchandise (kerajinan) produk Tasikmalaya. Produk industri kreatif ini sudah masuk negara di Afrika dan siap beredar saat penyelenggaraan Piala Dunia pada Juni 2010. Kepastian ini didapatkan setelah Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan menerima kunjungan Duta Besar Afrika Selatan untuk Indonesia, Noel N. Lehoko di Gedung Pakuan, Jln. Otto Iskandardinata Bandung, Rabu (3/3). Gubernur menyatakan, warga Jabar boleh merasa bangga karena produk kerajinannya menjadi merchandise Piala Dunia. "Saya kaget dan bangga mendengar kabar dari Duta Besar Afrika Selatan bahwa cenderamata untuk Piala Dunia berasal dari Tasikmalaya," ujar Gubernur usai menerima kunjungan Kedutaan Besar Afrika Selatan. Pertemuan tersebut juga dimanfaatkan Gubernur untuk meminta pemerintah Afrika Selatan membuka keran ekspor tekstil asal Jabar. Jangan sampai tekstil Indonesia, khususnya Jabar, kalah oleh produk Cina. Heryawan menambahkan, ekspor tekstil dan produk tekstil Jabar ke Amerika Serikat saat ini cukup sulit karena krisis global. Oleh karena itu, harus dibuka keran eskpor baru ke negara lain, di antaranya negara-negara di benua Afrika. "Dubes Afrika belum berjanji akan menerima, tapi 'kan saya sudah usaha, mudah-mudahan ada tindak lanjutnya," ungkap Heryawan. Kedatangan Dubes Afrika Selatan ke Jabar, katanya, dimaksudkan untuk bersilaturahim. Noel N. Lehoko baru menjabat sebagai Duta Besar Afrika Selatan untuk Indonesia sekitar enam bulan. Menurutnya, dubes tersebut datang ke Bandung sebagai ibu kota Jabar karena merasa memiliki ikatan emosional terkait Konferensi Asia Afrika (KAA). "Mereka merasa memiliki kedekatan dengan Jabar, terutama Bandung, yang terjalin kuat antara Jabar dan Afrika Selatan. Makanya Kedubes Afrika Selatan itu datang mengunjungi Bandung," ujar Heryawan. (B.83)**http://www.klik-galamedia.com |
Asing Potensi Depak Pengrajin
Surabaya- Revisi Peraturan Presiden (Perpres) No. 111/2007 tentang Daftar Negatif Investasi (DNI) berpotensi memicu banjirnya produsen asing di Indonesia. Sektor industri kreatif, khususnya kerajinan, dipastikan akan banyak yang gulung tikar karena kalah bersaing harga.
”Saya juga bingung, mestinya porsi asing di industri kretif, khususnya kerajinan seperti batik dan gerabah harusnya nol persen. Kalu asing masuk, ya pastilah pengrajin lokal kalah segala-galanya,” ujar Ketua Asosiasi Perajin Jatim, Liliek Nur, Senin (8/3).
Dalam rencana Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), lima sektor yang selama ini belum diatur kepemilikan asingnya akan direvisi. Misalnya untuk industri kretaif, asing akan diperbolehkan masuk dengan maksimal memiliki porsi 49%.
Sementara, porsi sama diberikan untuk asing di sektor logistik dan pertanian. Untuk kesehatan diberikan porsi 67% dan menara telekomunikasi juga diperbolehkan meski angkanya belum ditentukan.
Diakui Lilik, rencana BKPM tersebut memang baik, plaing tidka dari sisi kepastian hukum. Dari semula tak ada aturan, akhirnya menjadi ada aturan. Sayangnya, aturan itu justru tidakberpihak kepada masyarakat dengan membiarkan asing ikut masuk di sektor kerajinan.
”Ini sinyal bagi pengrajin lokal bahwa sebentar lagi akan makin banyak yang gulung tikar,” sesalnya.
Saat ini saja kondisi pengrajin dalam negeri semakin buruk. Banyak kerajinan dengan bahan baku asli Indonesia kalah bersaing dengan China. Nasib pengrajin batu onyx, misalnya. Batu asli Tulungagung ini di ekspor dalam bentuk setengah jadi. Setelah diubah menjadi barang jadi, ia dimasukkan kembali ke pasar Indonesia. ”Anehnya harganya lebih murah. Untuk satu komoditi ini saja kami sudah kalah dengan China, Vietnam, dan India yang ambil bahan dari sini,” katanya.
Keprihatinan sama diungkapkan Ketua Forum Daerah (Forda) Usaha Kecil Menengah (UKM), Nur Cahyudi tentang nasib pengrahjin batik. Menurut dia, industri batik mestinya sama sekali tertutup untuk asing. Tak hanya batik tulis dan cap, tapi juga batik cetak. Pasalnya, jenis inilah yang paling banyak dikonsumsi masyarakat.
”Dengan adanya FTA ASEAN-China mestinya industri kecil, khususnya yang menjadi ciri khas bangsa seperti batik, harus dilindungi 100%. Kenapa kok malah asing boleh memasukinya?” ujarnya.
Terbuka untuk Bisnis
Sektor lain yang juga diperlonggar aturannya dengan revisi Perpres tersebut adalah menara seluler. Dengan adanya aturan baru ini, pemain asing boleh ikut dalam bisnis menara di Indonesia. Menanggapi hal ini, Head of Public Relation Indosat, Adita Irawati menyatakan operator tidak terlalu mempermasalahkan hal tersebut.
”Kalau buat Indosat tidak terlalu masalah selama memenuhi kualitas syarat teknis, administratif, dan frekuensi Indosat. Apalagi selama ini lebih dari 90 persen menara Indosat juga milik kami sendiri,” ujarnya.
Dari sisi investasi, diakui Dita memang lebih efisien untuk menyewa dari pihak ketiga karena biaya terbesar pendirian menara biasanya terletak pada pemilihan lokasi, pembebasan lahan dan administrasi seperti perizinan dan lain-lain. Namun masing-masing operator dikatakannya memiliki kebutuhan yang berbeda.
Dengan masuknya pemain asing di bisnis menara, diakui Dita bukan tidak mungkin akan terjadi perang harga di antara mereka yang menyewakan menara. ”Itu sudah sifat alamiahnya pasar. Nantinya kami sebagai konsumen bisa memiliki lebih banyak pilihan,” tambahnya. Saat ini Indosat sudah memiliki 16 ribu BTS dan 10-12 ribu tower di seluruh Indonesia.
Meski demikian menurut pengamatan Maswigrantoro Roes Setyadi, Peneliti Institute for Technology & Economic Policy Studies, kebijakan asing boleh berbisnis menara menandakan pemerintah tidak mendukung produsen dalam negeri. Apalagi membangun menara tidak menuntut teknologi tinggi dan lokal sudah menguasainya.
"Dana Rp 8 triliun bukan angka yang besar dan seharusnya dapat dibiayai dari perbankan lokal. Berdasarkan pengalaman selama ini, investasi asing juga dibiayai dari perbankan dalam negeri," katanya.
Sementara, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Gita Wirjawan mengungkapkan draf revisi DNI sudah selesai disusun dan tinggal dilakukan finalisasi. "Maret sudah disikapi dengan tegas," katanya, Sabtu (6/3).
Dia menjelaskan percepatan pemberlakuan ketentuan DNI yang baru tersebut dilakukan guna memberikan kepastian bagi investor yang ingin berinvestasi di Indonesia. "Ini penting sekali karena kita bisa memberikan sinyal positif bagi siapa pun dalam atau luar negeri kalau Indonesia open for business," ujarnya.
Terkait keluhan pengusaha lokal di sektor industri kreatif, Gita mengatakan tak perlu cemas. Dengan adanya aturan porsi, batasan bagi asing akan lebih jelas. "Jadi tidak perlu ada kekhawatiran kawan-kawan pengusaha nasional," ujarnya. ang, dya, ant
Rencana Porsi Maksimal Asing Pasca Revisi DNI
Sektor Revisi Aturan Lama
Kesehatan 67% 49%-75%
Pertanian 49%. 95%
Jasa logistik 49% Belum diatur
Industri kreatif 49% Belum diatur
Menara Telkomunikasi Belum ditetapkan Belum diatur
Pendidikan Boleh menyewa pengajar asing Belum diatur
Sumber: BKPM diolah
http://www.surabayapost.co.id
Perajin Mulai Cari Model yang Tidak Digarap Perajin China
29 Januari 2010 | 23:12 wib | Daerah
Banjarnegara, CyberNews. Perajin dan pengusaha keramik di Klampok, mulai khawatir terhadap kebijakan pemerintah terkait perdagangan bebas ASEAN-China. Sebab, sebelum adanya kebijakan itu saja keramik Klampok sudah berjuang mati-matian untuk tetap hidup.
"Apalagi dengan adanya kebijakan baru ini, kami khawatir. Sebab, berdasarkan pengalaman saya magang dua minggu di China, secara SDM dan teknologi usaha keramik, mereka sudah sangat maju," kata Yanti, pemilik usaha keramik Usaha Karya, Jumat (29/1).
Dia mengatakan, perajin dan pekerja di sana sangat ulet. Inovasinya bagus dan upahnya tidak terlalu tinggi sehingga berani bersaing soal harga. Hal itulah yang belum bisa ditandingin perajin lokal. Maka jika banyak keramik yang nanti membanjiri, bisa saja menggusur keramik khas Banjarnegara itu. "Untuk menyiasatinya, kami yang sudah punya langganan ke luar negeri, mencari model yang tidak digarap perajin China. Dengan cara itu masih bisa bertahan, namun bagi perajin lain yang pasarnya masih lokalan dan regional, akan sulit menandingi," katanya.
Usulnya, pemerintah perlu meninjau kesepakatan perdagangan bebas itu, untuk beberapa jenis barang. Intinya adalah untuk melindungi usaha warga negaranya, meski saat ini memang belum terasa pengaruhnya di Klampok atau Banjarnegara.
Hal senada juga diungkapkan tri Mulyantoro dari show room Mustika 3. Menurutnya, pemerintah mesti meninjau kesepaatan perdagangan bebas itu. Sebab, belum lama ini perajin keramik sudah dihadapkan pada kenyataan membeli minyak harga industri sehingga tak ada lagi subsidi.
( M Syarif SW / CN13 )
Perajin Rebana Kesulitan Kuningan
01 Maret 2010 | 15:55 wib | Ekonomi
Pekalongan, CyberNews. Perajin rebana di Kota Pekalongan mengeluhkan berkurangnya pasokan kuningan sejak beberapa bulan terakhir.
“Biasanya, berapapun saya minta, pasti langsung dikirim. Saat ini, harus pesan dulu untuk mendapatkan kuningan itu,” kata Rahmad Sholeh, perajin rebana di RT 03, RW 08, Kelurahan Tirto, Kecamatan Pekalongan Barat, Kota Pekalongan, Senin (1/3).
Sholeh biasa memasok kuningan dari Juwono dan Salatiga. Karena pasokan berkurang sementara permintaan kuningan tinggi, rencananya harga kuningan akan naik sebesar Rp4000 perset. Saat ini, kuningan satu set atau berisi 24 biji harganya Rp200.000.
Meskipun harga kuningan akan naik, Sholeh belum akan menaikkan harga jual rebana produksinya. Pasalnya, saat ini permintaan rebana di tempatnya mengalami penurunan jika dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. “Pada Maulid Nabi, biasanya saya menerima order pembuatan rebana sebanyak 15 set. Tapi kali ini, permintaan rebana hanya 10 set,” terangnya.
Satu unit rebana harganya antara Rp300.000 hingga Rp700.000 perbiji. Rebana jenis banjar (duror), misalnya harganya Rp300.000 perbiji. Untuk rebana jenis bas harganya Rp400.000 perunit. Atau, satu set terdiri dari empat rebana harganya Rp1,2 juta, sementara lima rebana harganya Rp1,6 juta dan rebana sebelas unit harganya Rp4 juta.
Rebana-rebana produksinya, biasnnya dikirim ke Cirebon, Banjarnegara, Jakarta, bahkan hingga luar Jawa seperti Lampung, Riau dan Jambi.
( Isnawati / CN12 )
Kaligrafi Grabak Tembus Sumatera dan Sulawesi
10 Maret 2010 | 23:08 wib | Daerah
Magelang, CyberNews. Rumah produksi CV Sari Agung Perkasa (SAP) di Dusun Paingan, Desa Kleteran, Kecamatan Grabak terbilang sederhana. Saat Suara Merdeka berkunjung, Rabu (10/3) siang, dinding bangunan pabrik hanya terbuat dari seng yang dicat warna merah hati.
Tak ada gedung megah maupun mobil mewah milik manajer perusahaan yang berjejer rapi. Jalan menuju pintu masuk pabrik juga hanya jalan tanah yang becek akibat hujan yang kerap mengguyur Grabak. Sejumlah sepeda motor milik karyawan tampak diparkir di sela tumpukan bingkai kayu ukir yang belum selesai dibuat.
Namun jangan ragukan kerajinan kaligrafi berbahan baku kuningan yang dikembangkan Wardoyo itu. Setiap bulan, indutri rumahan yang dibangun pria kelahiran 1960 ini mampu menghasilkan paling tidak 1.200 buah kaligrafi dan berbagai lukisan. Karyawan yang diperkerjakan juga cukup banyak. Dari data bagian kepegawaian, Wardoyo memperkerjakan sebanyak 723 orang karyawan. Mereka digaji dengan standar yang cukup tinggi, melebihi perusahaan besar.
Kaligrafi ini selanjutnya dikirim ke puluhan kota di Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi. Untuk pemasaran, Wardoyo membentuk 31 tim di mana setiap tim terdiri 12 orang. Setiap tim ini dipasrahi pemasaran kaligrafi kuningan di satu kota.
Mereka disebar mulai Bandar Lampung, Jambi, Palembang, Medan, Binjai, Bengkulu, Riau bahkan sampai Banda Aceh. Untuk kota-kota besar di Sulawesi hampir semuanya ada tim marketing Wardoyo. Sementara untuk pulau Kalimantan hanya kota Pontianak yang belum dimasuki. Di luar Pontianak, kaligrafi karya mantan tukang servis elektronik di Pasar Rejowinangun ini laris manis.
Ya, pemasaran kerajinan kaligrafi yang dibangun Wardoyo sejak 6 tahun lalu itu memang sudah meluas. Hal ini membuat bagian produksi sampai kewalahan memenuhi permintaan. Padahal kaligrafi tersebut tidak dijual dengan harga murah. Wardoyo mematok harga antara Rp 800 ribu sampai Rp 3 juta tergantung ukuran dan kualitasnya.
Untuk bahan baku, pria yang pernah bekerja sebagai kontraktor di Pulau Dewata Bali selama 3 tahun ini memang memilih bahan pilihan. Hal ini dilakukan agar kaligrafi tersebut tahan lama sehingga digemari konsumen. "Saya memberikan garansi 2 tahun, jika rusak bisa ditukar atau dikembalikan. Saya juga berani mengatakan bahwa kaligrafi ini akan tahan 20 tahun," kata jebolan SMA yang mengaku otodidak ini.
Menurut Wardoyo jaminan perlu diberikan untuk menjamin kepercayaan konsumen. Saat mereka puas, maka diyakini famili maupun kolega pembeli akan ikut membeli kaligrafi karyanya ketimbang karya perusahaan lain.
Tak jarang, para pembeli dari ketiga pulau tersebut langsung menelpon dirinya untuk mengajukan complain maupun sekedar bertanya-tanya. Wardoyo sampai menyiagakan hpnya selama 24 jam untuk menampung keluhan tersebut.
Dengan cara ini, Wardoyo berhasil mematahkan mitos bahwa membuka usaha harus memiliki modal besar dan skill. Dengan modal pas-pasan dan kemampuan minim nyatanya ia mampu mengembangkan usaha rumahan yang beromzet milyaran rupiah.
"Bagi saya yang terpenting adalah niat. Saya selalu menanamkan pada diri sendiri jika orang lain bisa maka saya juga bisa. Ketika melihat orang lain sukses saya ikut mencobanya dan ternyata saya juga bisa. Semua ini buah kerja keras dan coba-coba," kata dia.
( MH Habib Shaleh / CN13 )http://suaramerdeka.com300 UMKM semarakkan IFFINA 2010
Rabu, 10/03/2010 19:12:54 WIBOleh: Mulia Ginting Munthe Hingga tadi sore, dari target 300 peserta, yang telah hadir memastikan diri, mulai meramaikan pameran sebagai perajin atau UMKM yang berasal dari berbagai daerah sentra kerajinan di pulau Jawa maupun dari pulau Jawa.
Asisten Deputi Urusan Espor dan Impor Kementerian Negara Koperasi dan UKM Prijadi Atmadja, mengatakan areal pameran yang ditempati perajin sangat luas, karena bisa mencapai dua kali lebih lebar dari ajang pameran di Jakarta Covention Center (JCC) Senayan.
Luasnya mencapai 13.500 meter persegi, hingga sangat siap mengantisipasi kehadiran para pembeli asing maupun lokal. "Yang pasti, 5 negara selama ini menjadi buyer terbesar kelima di Indonesia, yakni Amerika Serikat, Australia, Malaysia, Spanyol, dan Belgia sudah pasti datang,” ujar Prijadi, hari ini.
Jumlah negara yang sudah mengkonfirmasikan kehadiran para pembelinya untuk bertransaksi di ajang pameran internasional khusus industriy kerajinan tersebut mencapai 110 negara. Karena itu panitia di bawah koordinasi Asosiasi Industri Permebelan Indonesia (Asmindo) optimistis akan terjadi peningkatan transaksi disbanding tahun lalu.
Transaksi tahun lalu tercatat sebesar US$225 juta, sedangkan pada tahun ini ditargetkan mencapai US$300 juta. Peningkatan ini sangat mungkin terlaksana, karena produk yang ditawarkan sangat bervariasi serta inovatif.
Ini disebabkan produk kerajinan yang dipamerkan sangat strategis karena bahan bakunya 100% lokal. Di samping itu, pelaku industri kerajinan ini melibatkan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM), sehingga kapasitasnya terus meningkat mengimbangi variasi dan desain. (ln)http://web.bisnis.com
Ekspor Kerajinan Rotan Cirebon Terus Merosot
"Berkurangnya luar biasa, sampai 80 persen hanya dalam waktu sesingkat ini," ujar Mantan Ketua Umum Asosiasi Mebel Indonesia (ASMINDO) yang juga pengusaha rotan di Kabupaten Cirebon Soenoto, Rabu (10/3).
Berkurangnya jumlah ekspor kerajinan rotan, kata Soenoto tidak disebabkan oleh berkurangnya bahan baku. Justru, jumlah bahan baku rotan di Indonesia sangatlah banyak. 90 persen bahan baku rotan dunia berada di Indonesia, di antaranya di Kalimantan dan Sulawesi.
Yang menjadi penyebab, jelas Soenoto adalah pasar ekspor kerajinan rotan Cirebon sudah direbut oleh Cina. "Dengan kecerdikannya, Cina berhasil merebut pasar ekspor kerajinan rotan Indonesia. Cina membeli bahan baku dari Indonesia lalu dibuat kerajinan dan dieksporlah ke negara lain," kata Soenoto.
Jika sudah demikian, sejumlah negara menolak kerajinan rotan Indonesia karena dari segi harga, buatan Cina jauh lebih murah. Akibatnya, banyak industri rotan di Cirebon yang gulung tikar dan tidak mampu lagi menyerap tenaga kerja. (ww)
http://www.tribunjabar.co.id
Modal Rp 2.000, Bisa Topang Masa Tua
JAKARTA, KOMPAS.com — Usia boleh senja, tetapi semangat untuk berkarya tetap tinggi. Itulah yang dipraktikkan Iwa, pemilik Indo Cipta Galeri Craft Art di Bogor, Jawa Barat.
Perempuan berusia 61 tahun ini setiap hari menopang usahanya dengan bekerja sebagai perajin aksesori dan sulaman kepompong. Dengan penglihatan yang mulai surut, setiap hari dia bisa menghasilkan lebih dari 10 kerajinan. Bahkan, dalam waktu tiga bulan, dia bisa menghasilkan sekitar 300 kerajinan dari tangannya sendiri.
Alhasil, dari hasil kerjanya itu, nenek satu cucu ini tak perlu menggantungkan hari tuanya di tangan suami ataupun anak-anaknya.
”Umur sekian enggak masalah. Ngapain pensiun, ngapain kita berhenti. Kita senang kok hobi kita tersalur, biarpun sudah nenek-nenek. Nanti saja kalau sudah diambil Tuhan baru pensiun,” kata Iwa kepada Kompas.com saat ditemui di lokasi pameran ekonomi daur ulang, Hotel Bidakara, Jakarta.
Sudah sembilan tahun Iwa membuat kerajinan kepompong. Sebelum memproduksi kerajinan aksesori dan sulaman kepompong, nenek satu cucu ini membuat kerajinan bunga kering. Pekerjaan ini dijalaninya sejak 32 tahun silam.
Saat itu, Iwa baru saja diperistri oleh suaminya, Irwin Hasibuan (62). Kehidupan pengantin baru ternyata membuatnya memiliki banyak waktu luang. Dia pun mencari kegiatan dan mulai menggeluti hobinya saat masih gadis dulu, yakni membuat kerajinan.
Dengan bermodalkan Rp 2.000, dia menjajal kerajinan bunga kering. Tak disangka, hasil kerajinannya ini laku dijual dan pesanan pun mulai membanjir.
Puluhan tahun menyetir usahanya, Iwa pernah berulang kali mengalami jatuh bangun. Usahanya mengalami masa kejayaan pada 1992. Saat itu, banyak pesanan mengalir dari Amerika Serikat, Brunei, dan negara tetangga, seperti Malaysia dan Singapura.
Dari dalam negeri, pelanggannya banyak berasal dari kalangan birokrat. Namun, krisis moneter 1997 menghantam usahanya. ”Saat krisis moneter itu pelan-pelan usaha saya terus menurun. Itulah yang disebut sampai titik nadir kami. Terus terang saya bingung mau bagaimana. Pokoknya sempat menangis berdarah-darah,” ujarnya pelan.
Tak kehilangan semangat, ibu tiga anak ini terus memproduksi bunga kering. Zaman pemerintahan Gus Dur, dia mendapat pesanan 20 rangkaian bunga kering dari kalangan pegawai pemerintahan. Pesanan ini cukup membangkitkan usahanya kembali.
Memasuki abad ke-21, dia merasa bahwa pasar telah mulai jenuh dengan produknya. Iwa mencoba kreasi baru dengan mengadopsi kepompong untuk diimbuhkan dalam kerajinannya.
Tak hanya kepompong sutra, segala macam rumah ulat ini dicobanya. Biasanya, dia memilih untuk mempertahankan warna asli kepompong dalam setiap produknya. Hasilnya, kepompong warna kuning emas atau putih ini disulap menjadi aksesori baju ataupun jepitan rambut. Versi lain, Iwa menyulamkan kepompong sebagai hiasan di baju ataupun selendang.
”Ibu cari biar tampil beda dan eksklusif. Pokoknya harus kreatif dan bahannya yang unik. Dari situ saya lihat kepompong dan berpikir kalau itu bisa disulam dan diapa-apain menjadi aksesori. Eh, malah bikinan nenek-nenek disukai anak-anak,” ucapnya.
Rajin ikut pameran
Untuk memuluskan usahanya, Iwa terbilang rajin mengikuti pameran. Langkahnya beralasan karena pameran menjadi ajang untuk mempromosikan produknya. Dalam satu kali pameran, dia bisa meraup omzet Rp 2 juta hingga Rp 3 juta dari aksesori yang dijualnya seharga rata-rata Rp 10.000 per buah.
”Pokoknya ikut pameran terus. Apalagi kalau diundang, kayak kemarin dari Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian, terus perusahaan-perusahaan itu juga pernah ngundang,” ujar Iwa.
Tak hanya di Indonesia saja, perempuan kelahiran Medan ini juga pernah memboyong produknya ke Singapura untuk mengikuti pameran selama tiga minggu. Di negara tetangga itu, produknya juga laris manis.
Uniknya, Iwa mengaku hanya dapat membuat paling banyak dua kerajinan dengan desain yang sama persis. Selebihnya, bentuk desainnya pasti sudah berbeda. Lantas, bagaimana apabila ada banyak pesanan dengan desain yang sama?
”Ya, kasih saja ke pegawai. Kan banyak yang bisa mengerjakan. Benar lho, ini enggak tahu kenapa cuma bisa buat satu atau dua saja dengan desain yang sama. Kalau disuruh bikin yang sama lagi, sudah enggak bisa itu,” jawabnya.
Kini, selain membuat kerajinan, dia juga disibukkan dengan kegiatan mengajar para mahasiswa yang ingin belajar membuat kerajinan. Jumlah muridnya ini mencapai belasan. Ke depan, dia berangan-angan membuat buku katalog berisi koleksi desain aksesorinya. Semoga berhasil!
========================================================
IwaIndo Citra Galeri Craft Art
Jalan Prapatan Dukuh Rt 01/Rw 01, Pasar Mukti, Citeureup, Kabupaten Bogor Jabar
Hp: 08568944146
http://bisniskeuangan.kompas.com
